Senin, 10 Sept 2007,
Diskusi Seru tentang Indra Keenam dan Ramalan Tarot
Anugerah dan Musibah?
TIDAK semua orang diberi anugerah indra keenam. Memiliki kemampuan seperti ini bisa menjadi pisau bermata dua. Sebuah anugerah atau musibah.
——————
Diakui oleh para bookaholic, Visco Magistar, Riska Dwi Ramadhani, Rizqi Dwi Prastiorini, Rendi Yussinata, dan Elvira Dwi Fatmawati, bahwa orang dengan indra keenam adalah spesial. “Orang semacam itu seolah mendapatkan kepercayaan lebih,” buka Rendi. “Dia diberi sesuatu yang nggak semua orang punya.”
Meski yang lain tidak langsung menanggapi, mereka tampaknya setuju. Semua sepakat, indra keenam seperti yang dimiliki Thalia (tokoh utama Tarothalia) merupakan anugerah. Tapi, tidak dengan Elvira. Dia merasa kasihan dengan orang yang punya indra keenam itu.
Diskusi para bookaholic semakin menghangat. “Benar…, kebayang dong bisa melihat hal-hal gaib sendirian,” timpal Riska sambil bergidik ngeri. “Mungkin bagi kita, itu terlihat menyenangkan, beda dari yang lain. Tapi, apa benar begitu?”
Tepat sekali, ciri orang yang memiliki indra keenam memang bisa melihat dan merasakan makhluk gaib. Seiring dengan pertambahan umur, mungkin orang itu juga bisa melihat masa depan. “Nah, kalo sudah begitu, apa benar masih menganggapnya keren?” tanya Riska dengan nada menyindir.
“Ya, masih lah…,” jawab Visco. Jika punya, Visco bakal melatih mentalnya agar terbiasa melihat hal gaib. Dia juga tergiur dengan kekayaan Thalia karena kemampuannya untuk melihat masa depan.
Thalia memang beruntung. Dia berhasil memanfaatkan potensi lebihnya ke arah positif. Menjadi penasihat spiritual, lalu menjadikannya sebagai profesi. Banyak di antara pemilik indra keenam seperti ini yang memanfaatkan untuk berbuat jahat.
“Aku jadi pengin seperti Thalia,” ungkap Rizqi yang sejak tadi diam. “Aku pengin bisa menolong orang dengan memberikan nasihat yang didapat dari penerawangan masa depan,” lanjutnya.
Profesi penasihat spiritual Thalia memang terlihat seperti peramal. Yang mampu membocorkan masa depan untuk kliennya. Ngobrolin soal ramal-meramal, kebanyakan semua berpikir kalo ini ilegal. Apakah bookaholic kita kali ini juga sependapat? Atau malah percaya dengan ramalan?
“Kalo aku sih nggak percaya,” tutur Visco. “Rugi amat hidup kita diramal orang lain. Jalannya hidup ini kan berdasar pilihan kita sendiri. Jadi, menurutku, nggak ada yang tahu jalan hidup kita selanjutnya,” lanjutnya.
Rendi sependapat. Dia malah merasa malas seandainya tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya kelak. Rendi parno kalau belum apa sudah tahu masa depannya.
Boleh juga pendapat si Visco. Pelajar SMA kelas tiga ini tampaknya sudah cukup matang memaknai jalan hidupnya. “Aku setuju sama Visco,” sahut Rendi tiba-tiba. “Justru kalo tahu apa yang terjadi selanjutnya dalam hidup, kita malah jadi malas berusaha atau malah jadi parno,” sambungnya.
“Iya, Thalia memang tahu apa yang akan terjadi pada kliennya. Tapi, dia menyampaikannya dengan memberikan suatu solusi tindakan baik yang kudu dilakukan,” tambah Elvira mendukung Rizqi.
Nggak lama berdiskusi, mereka terlihat mulai kompak. Berbagai pernyataan hampir semua mereka utarakan sependapat. Mereka tampak sangat kagum dengan pilihan hidup Thalia. Memiliki indra keenam, memanfaatkannya sebagai penasihat spiritual dengan landasan ilmu psikologi, dan jadi kaya. “Kereeennn…!” teriak bookaholic kompak. (car)
Senin, 10 Sept 2007,
CUAP-CUAP
Dari Benci Jadi Suka
Sejujurnya, aku kurang begitu suka dengan novel teenlit atau metropop seperti ini. Soalnya, aku pikir, semua ceritanya penuh dengan fiksi dan nggak mendidik. Kebanyakan kan begitu. Kalo nggak cinta, persahabatan, atau cerita ngefans sama idola. Selalu itu yang diangkat.
Sama seperti metropop Tarothalia ini, ceritanya juga mengangkat tentang cinta dan persahabatan. Bedanya, setelah aku baca, kok tiba-tiba aku jadi ikut hanyut dalam cerita. Yang tadinya benci setengah mati, eh… novel ini berhasil mematahkan semua stigma awalku.
Mungkin, karena novel ini juga menyisipkan cerita tentang dunia karir. Menarik! Jarang ada novel yang menceritakan kesuksesan seseorang, apalagi sukses gara-gara indra keenam. Selain itu, alur ceritanya seolah mengalir dan sangat wajar, bikin yang baca nggak bosen. Overall, meskipun nggak terlalu perfect, cerita ini cukup menghibur.
Visco Magistar
SMAN 2
Buku Favorit : Siapa Manusia Pertama Itu?
Penulis : Agus Miradi
Nilai : 2
Cerita Terlalu Dewasa
Menurutku, novel ini lumayan. Memang sih, aku akui, penulis cukup mahir menuangkan ide-idenya. Jarang banget aku menemukan novel yang menceritakan indra keenam semacam ini. Tapi, yang membuatnya bernilai kurang, cerita yang diangkat tuh terlalu dewasa.
Dunia karir rasanya nggak menarik untuk aku yang masih SMA. Kisah cinta dan persahabatannya sudah jauh dari style anak seumurku. Nggak ada curhat-curhatan, nangis bareng. Bahkan, gaya pacarannya pun terlalu simpel, nggak ada asyik-asyiknya.
Cerita seperti ini mungkin cocok buat mereka yang kuliah atau punya karir dan berencana menikah. Dari semua ketidakcocokan cerita novel ini sama aku, ada hal yang ternyata mirip banget.
Riska Dwi R
SMAN 6
Buku Favorit : Harry Potter
Penulis : J.K. Rowling
Nilai : 2
Rangkaian Cerita Jelas
Novel ini keren banget! Aku salut sama penulis yang memunculkan ide tokoh dengan indra keenam. Apalagi, tokoh itu mempunyai karir yang sukses. Meski bertema indra keenam, novel ini nggak mengungkapkan kisah mistis. Atau malah ngebikin orang percaya sama takhayul.
Indra keenam itu dimanfaatkan untuk menasihati orang lain supaya jadi lebih baik. Itu yang keren, menurutku. Nggak cuma itu, novel ini menyajikan cerita dengan runtutan alur maju yang jelas.
Aku paling males kalo ada novel yang menceritakan peristiwa flash back. Bikin bingung! Penyampaian dengan bahasa yang mudah membuat keseluruhan cerita bisa ditangkap dengan baik. Sudah lama aku mencari bacaan metropop seperti ini.
Rizqi Dwi Prastiorini
Ubaya
Buku Favorit : The Da Vinci Code
Penulis : Dan Brown
Nilai : 4
Isi Sarat Pesan Moral
Yang membuat novel ini unggul tuh penulisnya jeli melihat kekosongan bacaan. Maksudnya, giliran novel lain cuma mengangkat cerita cinta dan persahabatan, ini justru mengangkat kisah karir dan indra keenam. Awalnya, aku takjub kalau tokoh utamanya ini ternyata punya indra keenam.
Keren banget! Apalagi, dia berhasil memecahkan kasus dengan nasihat bijaknya. Benar-benar keren! Bahasa yang digunakan penulis pun sangat mudah dipahami. Tambahan lain, novel ini juga menyelipkan pesan moral, khususnya buat mereka yang sedang putus asa.
Kalau tahu apa potensi yang kita miliki, sesusah apa pun tantangan, pasti bisa dihadapi. Sangat luar biasa. Menghibur, tapi juga memberi kita suatu hal yang sangat bermakna.
Rendi Yussinata
Unair
Buku Favorit : Chronicles of Narnia
Penulis : C.S. Lewis
Nilai : 4
Cerita Mudah Dipahami
Bacaan yang belum pernah aku temukan sebelumnya. Baik dari segi cerita maupun tata bahasa. Benar-benar beda. Ini memang cerita fiksi, tapi tampak seperti ada tokoh sebenarnya. Novel ini seperti buku harian si tokoh. Dia cerita semua tentang kehidupannya.
Kata ganti orang pertama yang digunakan penulis membuat pembaca ikut masuk dalam kehidupan tokoh. Seolah kita benar-benar terlibat dalam tiap kejadiannya. Nggak nyangka aja, penulis bisa menciptakan kesan seperti itu.
Nilai plus dari novel ini tuh ya pesan moralnya. Aku jadi nyadar, Tuhan benar-benar adil. Setiap mereka yang merasa kekurangan, pasti diberikan-Nya suatu kelebihan. Jangan keburu putus asa, hadapi aja semuanya dengan tenang! Kebayang dong, ada novel yang memuat pesan moral sedalam itu. Luar biasa! Salut buat penulis.
Elvira Dwi Fatmawati
SMPN 12
Buku Favorit : Harry Potter
Penulis : J.K. Rowling
Nilai : 3